PENGERTIAN PANDANGAN HIDUP
- Menurut Koentjaraningrat dalam buku Ilmu Budaya Dasar yang disusun oleh Eddy Subandrijo (2000: 90) Pandangan hidup (World View) adalah nilai-nilai yang dianut oleh suatu masyarakat yang dipilih secara selekif oleh individu dan golongan di dalam masyarakat.
- Menurut Manuel Kaisiepo dalam buku Ilmu Budaya Dasar yang disusun oleh Eddy Subandrijo (2000: 90) Pandangan hidup mencerminkan citra diri seseorang karena pandangan hidup itu mencerminkan cita-cita atau aspirasinya.
- Menurut Lenski dalam buku Ilmu Budaya Dasar yang disusun oleh Eddy Subandrijo (2000: 90) Pandangan hidup merupakan bagian dari ideologi.
Dari definisi-definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pandangan
hidup adalah pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman,
arahan, petunjuk hidup di dunia yang mana mencerminkan diri seseorang.
Pandangan hidup tersebut dapat digunakan dalam menjalani hidup. Pandangan hidup
itu juga bisa diimplementasikan sebagai hasil-hasil pemikiran manusia
berdasarkan pengalaman, fakta, dan sikap meyakini sesuatu yang diringkas
sebagai pegangan, pedoman, petunjuk atau arahan.
MACAM-MACAM SUMBER PANDANGAN HIDUP
Pandangan hidup banyak
sekali macamnya dan ragamnya. Akan tetapi pandangan hidup dapat
diklisifikasikan berdasarkan asalnya yaitu terdiri ari 3 macam:
- Pandangan hidup yang berasal dari agama yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya.
- Pandangan hidup yang berasal dari ideologi yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat pada negara tersebut.
- Pandangan hidup hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.
PENGERTIAN CITA-CITA
Pengertian tentang cita-cita Menurut kamus
umum Bahasa Indonesia, yang disebut cita-cita adalah keinginan, harapan,
tujuan yang selalu ada dalam pikiran. Baik keinginan, harapan, maupun tujuan
merupakan apa yang mau diperoleh seseorang pada masa mendatang. Apabila
cita-cita itu tidak mungkin atau belum mungkin terpenuhi, maka cita-cita itu
disebut angan-angan. Antara masa sekarang yang merupakan realita dengan masa
yang akan datang sebagai ide atau cita-cita terdapat jarak waktu.
CERITA SEBUAH CITA-CITA
Dalam hidup ini, kita semua pasti pernah terpikir mengenai cita-cita kan?
Saya yakin, ketika ditanya apakah seseorang memiliki cita-cita pasti semuanya
akan menjawab ‘punya’. Mulai dari ingin menjadi guru hingga ingin menjadi
seorang presiden. Dan tentu kita punya cerita tersendiri mengenai cita-cita.
Dan ini cerita saya...
Sejak kecil, ketika ditanya tentang cita-cita, saya selalu punya jawaban
yang berbeda. Waktu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya selalu ingin
menjadi ‘dokter’ ketika ditanya mengenai cita-cita. Saat itu, difikiran saya
menjadi dokter akan sangat menyenangkan karena saya bisa membantu menyembuhkan
banyak orang sakit, tanpa pernah memikirkan biaya mahal yang harus dikeluarkan
untuk menjadi seorang dokter, dan tanpa pernah memikirkan halangan apa lagi
yang akan dihadapi kedepannya. Ya, namanya juga anak sd, hal-hal seperti itu
tidak akan terfikir.
Ketika saya menginjak bangku SMA, saya mulai menyadari hobby saya yang
amat sangat gemar membaca, terutama membaca novel-novel. Sejak saat itu, entah
mengapa saya ingin menjadi novelis. Dibayangan saya, menjadi novelis pasti
menyenangkan. Bisa bereksperimen dengan berbagai kata, merangkumnya menjadi
sebuah cerita utuh dan mampu mengekspresikan imajinasi dalam sebuah alur yang
indah. Bisa bertemakan cinta, derita, atau apapun yang saya mau. Saya bisa
memilih alur cerita apa yang sama mau, dan menentukan bagaimana jalan
ceritanya. Dan itu menyenangkan! Cita-cita itu ternyata menjadi kekuatan
sendiri buat saya. Saya jadi sering berjam-jam didepan laptop/menulis disebuah
buku. Entah mengapa semua itu sangat menyenangkan bagi saya. Namun sempat saya
mendapatkan saran&masukan jika menjadi novelis adalah pekerjaan yang tidak
tepat. Karna saya akan menghabiskan waktu lama dalam proses menulis, apalagi
jika saya sedang dalam keadaan ‘badmood’ dan tak ada sedikitpun ide yang saya
fikirkan untuk meneruskan tulisan, itu sangat membuang waktu. Sejenak saya
berfikir dan merenung, benar juga. Itulah kenyataan yang harus saya telan
pahit-pahit, dan kemudian menguburnya dalam-dalam.
Saat ini sudah jarang terdengar ada yang menanyakan
soal cita-cita lagi. Entah apa cita-cita saya saat ini saya pun masih bingung
mengungkapkannya. Saat ini yang ada dipikiran saya adalah saya ingin menjadi
seorang manager di perusahaan besar atau menjadi wirausahawan yang merogoh
sukses. Hanya itu. Tapi yang harus kita tanam dalam diri adalah ketika kita
sudah berusaha semaksimal mungkin namun kita tetap tidak mendapatkan apa yang
kita inginkan, percayalah kalau Allah memiliki rencana terbaik yang
dirahasiakan-Nya. Intinya tetap berusaha dan berdoa ya! Hehe.
PENGERTIAN KEBAJIKAN
Suatu kualitas moral yang menentukan baik tidaknya seseorang. Dalam
filsafat Yunani, terutama dalam pemikiran Sokrates dan Aristoteles, kebajikan mempunyai
arti lebih luas daripada arti moral.sokrates berpendapat bahwa kebajikan
merupakan keutamaan seseorang yang mengakibatkan dia menjalankan fungsinya
dengan baik. Menurut Aristoteles, kebajikan adalah keadaan sesuatu yang
menentukan keistimewaan khas dan memungkinkan dia melaksanakan fungsinya dengan
baik. Misalnya kebajikan manusia adalah kemampuan dan kegiatan akal budi untuk
dapat mengenal kebenaran.
Dibahas pula moral kebajikan, namun terdapat perbedaan pendapat antara
Sokrates dan Aristoteles, mengenai hal ini. Bagi Sokrates, kebajikan adalah pengetahuan;
seseorang yang mempunyai keutamaan mengetahui apakah ‘yang baik’ dan hidup baik
adalah praktik dari pengetahuan. Dengan ini Sokrates membangun suatu
intelektualisme etis. Bagi Aristoteles, kebajikan moral adalah suatu sikap
watak yang memungkinkan manusia memilih jalan tengah antara dua ekstrem yang
berlawanan. Pemikiran Aristoteles memperhatikan keharmonisan dan keseimbangan.
Tradisi ini cukup mempengaruhi cara berpikir para etikus sekarang. Tetapi
atas pengaruh I. Kant dan sesuai dengan ciri berpikir etika normatif, kebajikan
dipandang lebih sebagai norma daripada sebagai nilai. Pengalaman moralitas
adalah bagian pengalaman manusia. Kebenaran ini sering dimengerti dalam arti
bahwa integritas pribadi dan tindakan yang didasarkan emosi psiko manusia
ditentukan oleh prinsip normatif, seperti sikap baik, sikap adil, sikap hormat
pada orang yang lebih tua, sehingga kebajikan berarti konformitas hidup dan
tndakan manusia pada prinsip moral.
MAKNA KEBAJIKAN
Kebajikan
atau perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada hakekatnya sama dengan perbuatan
moral, perbuatan yang sesuai dengan norma agama dan etika. Manusia berbuat baik
karena menurut kodratnya manusia itu baik, makhluk yang bermoral dan beretika.
Atas dorongan suara hatinya cenderung manusia untuk berbuat kebaikan.
Manusia
merupakan makhluk sosial yang artinya : manusia yang hidup bermasyarakat,
manusia yang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya, manusia saling tolong
menolong dan saling menghargai sesama umat manusia. Sebaliknya pula manusia
saling mencurigai, saling membenci, saling merugikan, dan sebagainya.
Ada3 hal
faktor-faktor yang menentukan tingkah laku setiap manusia, yaitu :
- Faktor pembawaan (heriditas) yang telah ditentukan pada waktu seseorang masih dalam kandungan.
- Faktor lingkungan dimana mereka tinggal dan hidup dalam lingkungan yang baik maupun tidak baik.
- Faktor pengalaman yang khas yang pernah dialami sewaktu dia mulai hidup dan hingga sampai dewasa.
REFERENSI



Tidak ada komentar:
Posting Komentar